Dalam percakapan yang penuh kejutan di program Mata Najwa, Pramono Anung dan Rano Karno berbagi kisah menarik tentang perjalanan mereka menuju pencalonan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Tidak hanya penuh dengan tawa dan canda, tetapi juga mengungkap banyak sisi yang mungkin belum banyak diketahui publik.
Pramono Anung, yang sudah lama tidak muncul di ruang publik, mendadak diminta oleh Megawati Soekarnoputri untuk maju sebagai calon gubernur. Bahkan, Pramono mengaku tidak siap sama sekali untuk posisi ini, hingga dirinya harus mengorbankan rencana liburan ke Italia demi mengikuti amanah ini. Hal yang sama terjadi pada Rano Karno, yang awalnya juga tidak memiliki niat untuk kembali ke panggung politik, terutama setelah pengalaman sebelumnya sebagai gubernur Banten.
Cerita semakin menarik ketika Pramono mengungkapkan reaksi Presiden Jokowi saat dirinya memberi tahu tentang pencalonan ini. Tawa lepas Presiden menandakan dukungan sekaligus keakraban yang terjalin erat antara mereka. Dukungan dari Jokowi ini, meskipun tidak secara eksplisit, jelas memberikan dorongan moral bagi Pramono untuk maju dengan penuh keyakinan.
Rano Karno, yang lebih dikenal sebagai pemeran Si Doel, juga menceritakan bagaimana dirinya terkejut saat Megawati memintanya untuk menjadi wakil gubernur. Sebagai putra Betawi, ia merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakat Jakarta, terutama dalam menjaga budaya dan warisan kota ini. Rano mengakui bahwa tugas ini tidak mudah, terutama mengingat Jakarta yang akan segera kehilangan statusnya sebagai ibu kota negara.
Kedua tokoh ini, meski awalnya ragu, akhirnya sepakat untuk maju bersama dengan tekad yang kuat. Mereka berdua sadar bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, dengan dukungan politik yang hanya 14% dibandingkan dengan lawan mereka yang memiliki 86%. Namun, mereka yakin dengan strategi door-to-door, komunikasi yang baik, dan menjauhi politik identitas, mereka bisa memenangkan hati warga Jakarta.
Yang menarik, Pramono juga menyinggung tentang bagaimana dirinya dan Rano tidak hanya siap untuk turun ke lapangan, tetapi juga siap menerima kritik dan sorotan tajam dari publik, termasuk mengulas kembali rekam jejak masa lalu mereka. Meskipun demikian, mereka tetap berkomitmen untuk berpolitik dengan cara yang positif dan penuh kegembiraan.
Pada akhirnya, pencalonan Pramono Anung dan Rano Karno ini menjadi salah satu peristiwa politik yang penuh dengan kejutan dan drama, menggambarkan betapa dinamisnya politik di Indonesia, terutama dalam konteks Pilkada DKI Jakarta yang selalu penuh warna.
Sumber: Eksklusif Pramono-Rano: Cerita Anies, Titah Mega, dan Tawa Jokowi - Mata Najwa
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah membaca...!!!