Al Mumtahana
Konsekuensi iman, tidak tolong menolong terhadap orang kafir.
Pelarangan menjadikan kafir sebagai wali-wali.
Pengharaman menjadikan wali orang yahudi dan nasrani di surah Al-Maidah.
Bayan, tidak bolehnya menjadikan orang kafir wali-wali kita, orang yang kita cinta dan berikan pertolongan.
1. Bagaimapun keberadapun yang dilihat secara zohir, interaksi kita, bagaimanapun mereka adalah orang kafir. Bagaimanapun gaya mereka , mereka adalah orang fafir. Mereka telah menisbatkan Allah memiliki anak., telah bersikap lantang kepada Allah.
2. Permusuhan kita kepada mereka karena iman kita kepada Allah.
3. Ketika mereka kuat, maka mereka akan bertindak kasar kepada orang beriman. Baik dengan lisan dan perbuatan untuk bersikap kasar kepada kaum muslimin.
4. Orang-orang kafir akan berusaha sekuat tenaga dan semua cara untuk membuat kita kufur kepada Allah. Dari keimanan menuju kekufuran, tidak akan biarkan satu momen untuk membuat kita meninggalkan dari agama kita.
Ayat 3, kaum kerabatmu dan anak-anakmu tidak akan bermanfaat bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Peringatan kepada orang beriman bahwa ada sebab-sebab yang bisa membinasakan, yaitu membuat orang kafir anbiyya, kerabat-kerabat kita. Maka jangan tolong mereka dan menjadikannya keluarga.
Seperti yang dikatakan kepada shofiyyah, dan anaknya Fatimah. Kapan mereka berpaling, maka Rasulullah sebagai nabi Allah tidak memiliki kekuasaan dan pertolongan jika telah kufur kepada Allah. Peringatan kepada orang beriman sebagai hal-hal bentuk pertolongan kita kepada orang kafir.
Sebelumnya, bagaimana cara kita sebagai orang beriman, kemudian menjelaskan orang-orang kafir Yahudi dan Nasrani.
Ayat 4. Makna uswatun hasanah, makna lainnya adalah qudwqh. Panutqn yang baik. Kita jadikan Nabi Ibrahim qudwah dalam keberpalingannya dalam kefukuran. Karena Nabi Ibrahim berpaling kepada kaumnya. Keberpalingan Nabi Ibrahim ada dua masalah :
1. Karena kefukuran mereka sendiri (kaumnya).
2. Keberadaan sesembahan yang mereka sembah.
Kita berpaling dari mereka dari kekufukaran dan juga sembahan mereka. Kita wajib sebagai seorang mukmin dari segala bentuk kekufuran. Baik kepada kekufuran mereka maupun dari sembahan mereka.
Nabi Ibrahim Alaihissalam, jika jelas terdapat kekafiran yang terjadi kepada orang tuanya (sang ayah). Yang pada awalnya beliau sendiri meminta ampunkan ayah beliau. Maka ayat ini menjelaskan kita tidak boleh memintakan ampun kepada orang yang kafir, meskipun pada orang tua. Allah subahanahuwataala, juga melarang Rasulullah untuk memintakan ampun kepada orang kafir.
Sungguh aku(nabi Ibrahim) tidak memiliki kemampuan yang sedikitpun untuk memberikan pertolongan. Seperti Rasuullah, pamannya Ibnu Abbas, istrinya Shofiyyah, dan juga anaknya Fatimah telah mengatakan seperti ini. Mengatakan Allah menjadikan satu-satunya tempat menyandarkan untuk mengadukan masalah dan urusan kita. Bertawakkal kepada Allah, serahkan hasilnya.
Diakhir ayat, semua urusan dikembalikan kepada Allah.
Ayat 5. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran ) fitnah bqgi orang-orang kafir. Dan ampunipah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
Makna fitnah disini, Nabi Ibrahim berdoa agar orang-orang kafir menjadi fitnah kita. Yang bisa menjadikan memerintah, menguasai, memerangi orang-orang beriman, karena akan keras terhadap orang beriman . menghukum, memeras dan membuat menderita kaum muslim. Jangan sampai orang kafir memimpin kita. Karena jika terjadi karena itu adalah ujian yang sangat berat.
Doa minta ampunan , tidak diperlihatkan . Sifat Allah yang Hakim dan Sifat Yang Adil.
Ayat 6. Sungguh, pada mereka itu ( Ibrahim dan ummatnya) terdapat suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap pahala Allah dan keselamatan pada hari kemudian, dan barangsiapa berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Kaya, Maha Terpuji.
Makna : disini ada penguat bahwa tidak sekedar menjadikan Ibrahim sebagai suri teladan namun juga mengharapkan pahala dari Allah. Allah tidak dimudaratkan oleh orang-orang yang berpaling. Allah berlepas diri dari mereka. Allah tidak akan dimudharatkan dari orang yang bermaksiat kepada-Nya. Allah akan menguji orang-orang yang taat, dan Allah memuji orang-orang yang taat.
Faidah :
1. Perintah untuk menjadikan Nabi Ibrahim dan pengikutnya sebagai teladan karena itu adalah konsekuensi keimanan kita kepada Allah.
2. Wajib untuk berpaling dari oramg kafir dan membenci mereka dan memusuhi mereka. Meskipun mereka menampakkan kebaikan kepada kita, sampai mereka beriman.
3. Wajibnya untuk bertawakal kepada Allah dan sandarkan urusan kita kepada Allah. Baik lahit maupun manis.
4. Tidak boleh menjatuhkan diri kita dalam ujian yang datang dari orang kafir. Jangan dicoba-coba menjadikan orang kafir sebqgai pemimpin. Dan wajib mempersiapkan diri kita untuk berjaga saat mereka berkuasa.
Landasan untuk tidak menjurumaskan diri kita , karena kita tidak dapat bersabar untuk hadapi fitnah tersebut . sabda Rasulullah Muhammad "Barangsiapa mendengar fitnah dajjal maka lebih baik menghindar.
6. Penetapan nama Allah. Maha Kaya dan Maha Terpuji. Al Izzah , keperkasaan, Al Hikmah bijaksana, Al Ghonim Kaya, Al Magfirah Pengampun.
Perkataan bintang-bintang di ayat ini merupakan pengingkaran terhadap Tuhan dan sebagai bentuk pertanyaan kepada sang penyembah bintang-bintang tersebut. Nabi Ibrahim jauh dari praktik kemusyrikan.
Pada Ayat ke 3, kerabatmu dan anak-anakmu tidak akan memberikan manfaat bagimu, tidak berkontrasiksi dengan hadits anak sholeh karena ayat ke 3, berkaitan dengan anak yang ingkar.
Ketika orang kafir yang memimpin kita maka kita tidak boleh taat pada perkara yang mereka tetap namun kita tetap bermuamalah. Kita tidak pantas taat pada orang kafir, karena cukup sudah pengingkaran mereka kepada Allah menjadi sebab kebencian kita.
Oleh : Syaikh Abdullah bin Hamad Az Zaidani ( Murid Syaikh Al Ustaimin Rahimahullah )
Di Masjid Nurul Hikmah DPP WI Antang

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah membaca...!!!