Keluarga Adalah Benteng Pemikiran Islam

Muncul perang pemikiran, pemikiran sekuler, dari artis, dari gubernur kafir dan juga liberalisme yang memisahkan agama. 
Banyak sekali mahasiswa, punya ghiroh tinggi untuk belajar agama. Majelis Intelektual dan Ulama. Menyelesaikan masalah yg tidak dislesaikan oleh kaum intelektual,dalam hal ini ICMI dan berusaha menyelesaikan yang belum diselesaikan ulama yang dalam hal ini adalah MUI. Gerakan islam harus cerdas karena musuh islam kini juga cerdas. 
Hari ini dari 20 tahun lalu, cetakan 20 tahun lalu. Kita lengah dalam bidang pendidikan, kita juga lengah dalam bidang politik. Kita gagal mengangkat pemimpin dari kaum muslim. Jayakarta yang membangun Jakarta adalah seorang muslim dan sebuah daerah bermayoritas muslim, namun kini dipimpin oleh orang kafir . Bidang ekonomi, banyak pengusaha muslim namun lebih banyak lagi pengusaha non muslim, namun sebagian pengusaha muslim kurang bergairah sebabnya  Kemakmuran harta tidak seimbang kemakmuran spritual.
1. Sedekah untuk kaum mulimin.
2. Sumbangsih kepedulian untuk kaum muslimin.
Politik di mesir, mulim rohingya, suriah. Betapa menderitanya kaum muslimin di negara non muslim, berapa menyenangkannya kaum non muslimin di negeri kqum muslim. Barat ikut ajar ajarin toleransi, saat zaman nabi juga sudah ada yahudi, nasrani dan lain-lain. Negara arab, dibiarkan jika ada non muslim.
Makassar adalah benteng Islam di timur, dan rahasianya agar benteng ini tetap terjaga adalah keluarga. Keluarga akan membuat masyarakat dan masyarakat akan membuat bangsa. Jika berpikir untuk ummat akan mendapat krberkahan.

Ceramah tersebut diatas disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi di Ta'lim Malam Ahad Masjid Wihdatul Ummah, Malam Ahad (20/12/14) yang juga membawakan materi seminar dengan judul "Sumbangsih Sekularisme Ilmu Pengetahuan dalam Peradaban Dunia" di acara MIPA Expo gedung phinisi UNM Ahad pagi tadi (21/12/14).

Siapakah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi?

(Hamid Fahmi Zarkasyi ; disingkat HFZ) Bernama lengkap Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil,
lahir dari keluarga ulama, ayahandanya seorang dari Tri Murti pesantren Gontor KH Imam Zarkasyi Rohimahullah. lahir di Gontor, 13 September 1958, adalah putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. 
Terlahir dari keluarga islami modern, sehingga membentuk pribadi dan kejiwaan juga pendidikannya tidak terlepas dari lingkungan keilmuan dan keagamaan. 

Menamatkan pendidikan menengahnya di Kulliyatul Mualimin Al-islamiyah Pondok Modern Darussalam Gontor PonorogoJjawa Timur dan S1nya di institute studi Darussalam (ISID) di pondok yang sama. Pendidikan S2 ( MAEd) dalam bidang pendidikan di peroleh di The University of Punjab, Lahore, Pakistan (1986). Pendidikan S2 selanjutnya (M.Phil) dalam studi islam diselesaikan di University of Birmingham United Kingdom (1998). Sedangkan studi S3 (Ph.D) bidang pemikiran islam di selesaikan di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) IIUM Malaysia (2006). 

Kini ia menjadi direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), direktur Center for Islamic andOccidental Studies (CIOS), ISID Gontor. Baru baru ini ia dipilih menjadi pimpinan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). 

Sikap keilmuannya tercermin dari berbagai tulisannya di media masa. Ia mencoba mengkritik sesuatu yang di apresiasi orang, dan mengapresiasi konsep-konsep tradisional Islam yang selama ini dilupakan orang. Murid langsung Prof. Mohammad Naquib Al Attas ini pernah menjadi wakil umat Islam Indonesia dalam simposium tentang masa depan politik Islam di JIIA Tokyo 2008. Dalam bidang pendidikan ia adalah salah satu anggota dari tujuh Advisory Panel for International Academy of Islamic Education (IAME) yang berpusat di Malaysia (2010-sekarang). 

Sekarang selain aktif menulis di berbagai media masa dan beberapa jurnal, kesehariannya ia habiskan waktu untuk mengajar dan memimpin Program Kaderisasi Ulama dan Pascasarjana ISID Gontor Ponorogo Jawa Timur.

Komentar